· Aku telah menemukannya, jawaban atas setiap tanyaku yang rupanya
pernah kutuliskan dulu. Aku menemukannya dalam kumpulan dokumen lama.
Kutipan-kutipan bertemakan cinta penuh kegalauan tiada tara. Tulisan-tulisan
yang disalin anak SMP yang nampaknya baru mengenal “rasa”. Memalukan sekali :’D
·
Aku yang nyalin kutipan-kutipan itu, dulu, sekitar tiga tahun yang lalu.
Sumbernya pun aku udah lupa, so, maaf ya yang mungkin ada tulisannya di sini
tapi namanya gak disebutkan. Sama sekali gak ada maksud melanggar hak cipta.
Hanya saja aku benar-benar gak tau beberapa kutipan yang ada ini milik siapa
:’D
·
Well, akan ada dialog asyik (àopini) antara aku yang dulu dan
aku yang sekarang. Karena aku yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu ditendang
sekarang ku disayang. Yeah!
Cekidot..
· Benarkah aku
mampu sendiri (tanpanya?). tiba-tiba aku desergap pertanyaan yang selama ini
selalu ku bunuh.
Bisa kok. Kan, bisa kan? Udah tiga tahun lebih
kan “sendiri”? Pertanyaan yang saat itu selalu kamu bunuh memang pantas
dibunuh. Gak guna dia.
·
Aku tau dia
menyukaimu. Dan aku yakin, kamu pasti menyambut. Kalau tidak, bagaimana mungkin
terjadi suara jika bertepuk sebelah tangan?
Wah iya, aku ingat ini. Ini yang waktu doi ngajak kamu
balikan itu kan? Trus dia pernah nangis karena ada masalah di antara kalian
kan? Tangisan dia yang bikin kamu luluh dan merasa berharga? Tapi dalam
hitungan minggu atau bulan kemudian, aku sudah lupa berapa lama kemudian
tepatnya, dia “berubah”? Mulai jarang ngehubungin kamu dan suatu hari kamu
dapati di akun FB nya dia update status bahwa dia barusan “jalan” sama cewek
itu. Haha! Iya kan, yang itu kan? Bhahaha! Lucu sekali sekaligus sangat
memprihatinkan serta menyedihkan, mengingat kamu pernah menggalau karena pria
yang sikapnya begitu waktu itu.
· Sesuatu yang sulit ketika aku harus
berpura-pura tersenyum, hanya karena tak ingin dia tau, dia adalah alasan aku
bersedih
Wah, kali ini
kutipannya bagus. Aku masih sering terapkan—tapi tentunya bukan berkiblat pada
tulisan ini a.k.a. bukan tulisan ini yang mendorongku melakukannya—beberapa
lama ini. Cuman.. kayaknya peruntukannya beda, ya? :3
Iya, kan? Ini
waktu kamu menyembunyikan sesuatu tentang kelakuannya yang bikin kamu “sakit”
padahal harusnya dia peka tapi dia gak peka atau pura-pura gak peka, kan? Phew.
Cabal eah. Sudah berlalu, kok. Dan udah bisa ngambil value nya kan dari sana? U
need to be honest about everything whose hurts u whereas u’re properely being sheltered,
especially when u were being “terzolimi” wkakak. #ripenglish
Tentang yang
aku masih sering terapkan dari quote ini, ketika aku sedih dengan sesuatu yang
ada pada seseorang, tetapi belum saatnya bagiku mengutarakannya. Aku akan
tersenyum, dengan harapan, seulas senyum itu akan membuatnya lebih nyaman
bersamaku hingga suatu saat yang tepat aku bisa lebih leluasa menyampaikan
kesedihanku.
·
Jangan pernah kehilangan dirimu sendiri hanya
tuk bertahan pada seseorang yang bahkan tidak peduli jika dia kehilanganmu.
Pinter!
· Jangan membalas mereka yang membencimu.
Tersenyum dan berbahagialah di depan mereka (karena) tak ada yang lebih
menyakiti mereka daripada itu.
Sekilas bagus.
Tapi maknanya gak bijak. Karena nampaknya kamu tetap bermaksud “membalasnya”
bahkan dengan sesuatu yang lebih menyakitkan. Begitukah? Kalau iya, maka
sungguh.... sayang sekali.
Kalau ada yang
nggak suka/benci, yowes. Berarti kamu masih manusia. Bahkan makhluk yang suci
macam malaikat pun ada yang pernah membenci/memusuhi. Jadikan bahan introspeksi
waewes. Jabat tangannya, bilang makasih! Dia udah bantu kamu nyari tau tentang
apa yang mungkin kurang dari kamu.
Jangan
membalas mereka yang membencimu. Tersenyum dan berbahagialah dengan tulus.
Dibenci oleh satu dua orang itu manusiawi.
· Sesuatu yang sangat sulit untuk melupakan
seseorang yang telah memberimu begitu banyak hal untuk diingat.
Benar sekali.
Makanya jangan berusaha melupakan. Semakin berusaha melupakan, semakin dia
melekat. Kamu bisa “menghilangkannya” dengan cara membencinya. Tapi ini tidak
dianjurkan, dia akan meninggalkan bekas yang tidak menyenangkan.
Belajar
menerimalah saja. Dengan menerima, perlahan kamu akan lupa. Bagian dari takdir.
Terima saja. Biarkan dia pergi. Dan kamu, mulai hari baru. kamu akan menyambut
masa depan! Kamu bisa menggantungkan lebih banyak harapan. Jangan banyak meratapi
masa lalu. Tidak ada harapan yang bisa kau titipkan di sana.
—dan
mengapakah saya tiba-tiba merasa sedang bersama Hilbram Dunar di samping saya
·
Kita tidak bisa memilih dari mana kita
berasal. Kita hanya mampu menentukan bagaimana akhirnya kita kelak. #eaa
Pinter!
· Kamu yang membuat hidupku jadi lebih
berwarna. Maka, di saat kamu harus pergi nanti, aku harus siap menjalani
hidupku yang seperti semula, hidupku yang biasa. Sepi, sendiri, melelahkan dan
membosankan. Hitam putih dan hampa.
Ah, lebay.
Buktinya sekarang dan beberapa tahun belakangan hidupmu justru lebih berwarna,
kan? Galau berlebih memang terbilang canggih untuk merangkai kata. Tetapi
kadang benar-benar berlebihan dan malmakna—luput, lebay, dan kawan-kawannya.
· Sesuatu yang akan sangat membahagiakan,
ketika ‘aku dan kamu’ berubah menjadi ‘KITA’ lagi
Etttsah.
Sekarang sama sekali nggak mikir begitu nehhh. hayoloh. Ini ditulis ketika aku
berada pada sikap labilisme remaja yang keberadaannya memang sudah sangat
biasa. Sekarang udah iuh kalau membaca
quote ini. Hm. Gak perlu jawaban ini ya. #ripistilahK
·
Kamu tau aku membencimu? Ya, aku sangat
membencimu! Apa kamu tau aku ingin kamu pergi? Ya, pergilah! Aku tak ingin kamu
ada disini.
Dan
apakah kamu tau? Aku sedang berdusta? Oh, tentu tidak, karena kamu terlalu
bahagia saat mengetahui dua ilusi sebelumnya!
“Bakso bulat
seperti bola pimpong. Kalau lewat membikin perut kosong. Jadi anak janganlah
suka bohong. Kalau bohong digigit anjing ompong.”
·
Luka ini terlalu manis bagiku. Aku tak mau
luka ini cepat berlalu. Karena lebih baik aku kesakitan, daripada ku terima
kesembuhan yang menyakitkan.
Sepertinya
keliru....
Jadi ceritanya
kamu sangat mencintai sepeda. Suatu hari ketika kamu naik sepeda, kamu jatuh.
Ini yang pertamakalinya kamu jatuh dari sepeda, pengalaman yang indah karena
kamu jatuhnya di depan rumah doi(?) Lutut kamu luka, terkoyak kulitnya,
berdarah. Kamu akan membiarkan ia terus begitu dan “menikmati” rasa sakitnya,
atau kamu merelakan diri merasakan yang lebih perih karena diobati tetapi
beberapa waktu kemudian kamu akan sembuh?
·
Aku hanya pecundang malang yang jatuh cinta
pada orang yang salah. Dan pada saat yang sama dicintai oleh orang yang salah
pula.
Makanya nanti
aja cinta-cintaan. Cucian kamu masih banyak. Masakan yang kamu bisa buat belum
seberapa. Kamar mandi kamu belum disikat. Cucian keringmu belum dilipat. Nanti
kalau kamu menikah, cucian kamu akan jauh lebih banyak daripada itu, udah siap?
Nanti, kalau suami pulang kerja dan lapar, kamu mau masak apa? Nasi goreng
melulu? Sayurnya cah kangkung? Lauknya ayam masak bistik: menu yang aneh super.
Trus.. Itu, catatan kamu di note hape kamu belum disalin ke buku. Sepeda motor
belum kamu cuci.
Masih banyak
hal yang lebih penting yang kamu belum selesaikan. Bicara cinta di masa-masa
seperti ini itu waste time. Berbunga-bunga di awal, ujung-ujungnya mewek.
Galau. Buang-buang waktu ngestalk profile socmed miliknya. Halah. Banyak hal
yang kamu bisa lakukan daripada sekedar mikirkan cinta-cinta monyet itu.
·
Aku akan melepas semuanya, semua rasa cinta,
sayang, dan rasa ingin memiliki ini. Aku lelah menunggu kepastian darimu. Jika
kamu tak ingin mengakhiri ini, biarkan aku yang mengakhirinya!
Makanya. Ga
usah cinta-cintaan dulu. Kamu belum benar-benar siap.
·
Saat aku mendekat, kamu menjauh. Tapi kenapa di saat ku coba menjauh, kau
seolah mendekat dan memberiku berjuta harapan. Sungguh, aku ingin lepas dari
semua kebimbangan ini. Beri aku kepastian!
Tinggalin.
Kalau dia serius sama kamu, dia akan konsisten berjuang buat dapatin kamu.
Bukan bolak-balik gak jelas kaya gitu.
·
Untuk apa aku terus menyayangi dan
mencintaimu kalau caranya seperti ini? Sekarang kau sudah terlalu melukai
hatiku, kau terlalu menyakitiku. Ku ingin melupakanmu! Bagaimanapun caranya,
kapanpun waktunya, yang pasti secepatmya!
Kasian sekali,
ya. Alhamdulillah sekarang udah nggak begini.
·
Perih yang ku rasa takkan bisa kau mengerti.
Hati yang mencinta takkan bisa kau pahami. Luka yang ku derita takkan bisa kau
obati. Rasa ingin ku tuk’ pergi takkan bisa kau halangi!
Ini juga
kasian, ya. Ternyata gue dulu lebay!
·
Jangan membuat ini jadi lebih susah! Ini
sudah cukup susah buatku!
Makanya,
jangan main api kalau gak punya air yang cukup buat memadamkan. Kan kewalahan,
pas apinya gede.
·
Kenapa aku baru menyadari, kalau ternyata dia
sangat berarti. Justru di saat dia memilih untuk pergi
Masih? Masih
berarti kah dia? Nggak.. haha
Lagi-lagi ini
kesimpulan sesaat.
· Setiap orang punya jodohnya masing-masing.
Suatu hari yang tepat, kamu akan bertemu dengan jodohmu. Ia akan dapat
membahagiakanmu lebih dari yang aku bisa lakukan J
Benar. Dan
akan lebih baik lagi kalau kamu nggak pernah memberikan kenangan kepada jodoh
orang. Biarkan dia menemukan jodohnya dan fully happy bersamanya tanpa harus
bersamamu sebelumnya.
·
Kamu tak pernah tau betapa tersiksanya aku
dengan perasaan ini. Rasa harus memendam rindu ingin bertemu. Aku ingin di
setiap waktuku selalu denganmu. Kamu gak bakalan pernah ngerti, seberapa
sesaknya hati ini karena tumpukan rindu yang tak pernah bisa terungkapkan.
Sifatmu yang acuh buatku diam
Salahsatu
kebodohan yang pernah kulakukan. Pernah bertahan pada dia yang bahkan nggak
peka udah nyakiti. Acuh. Syukurnya sekarang udah pinter. Bhaha!
·
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah
ketika aku bertemu seseorang yang sangat beerarti bagiku, hanya untuk menemukan
luka. Dan pada akhirnya aku harus merelakan ia pergi L
Konteksnya
cinta-cinta monyet lagi, ya? Fyuuhh. Pada hakikatnya, setiap pertemuan memang
pasti ujungnya perpisahan. Entah sementara atau selamanya. Be prepared. Kamu
harus siap kehilangan apapun karena semuanya ini bukan punya kamu sepenuhnya,
hanya titipan.
·
Bagaimanapun, dan sebagai apapun kita saat
ini. Aku pernah sangat mencintaimu.
Aku
klarifikasi, ya. Bukan cinta. Tapi gila. Secara aplikasi mereka beda tipis. Dan
saat itu yang aku lakukan bukan mencintai, tapi menggilai. Nggak pakai otak,
hanya pakai nafsu, logika nggak digunakan, sekedar baper.
· Semalam aku bermimpi, bahwa seseorang
mencintaiku. Tiada harapan, tiada ancaman. Lagi-lagi hanya angan angan L
Mungkin kamu
lupa. Ada yang selalu mencintaimu bahkan sebelum kamu mengenal apa itu cinta.
Ayah dan mama.
Abang dan
kaka.
Seluruh
keluarga.
· Kamu telah berubah. Aku tidak lagi mengenalimu.
Kamu berubah menjadi seseorang yang bukan dirimu
Coba kamu cek
pergelangan tangannya. Mungkin disana ada gelang mirip jam tangan yang ada
lampunya. Kalau ada, itu milik ultramen, lepaskan, dia pasti telah mencurinya.
Pantas saja sekarang tak pernah lagi ku lihat ultramen di ind0si4r.
·
Mereka begitu dekat, namun juga sangat jauh
dari kehidupan yang kujalani sekarang. —Mereka Bilang Aku Gila (KennySteele)
Be
patient. Karena sebenarnya kita hidup memang sendirian.
·
Aku tidak ingin punya teman lagi. Supaya aku
tak harus kecewa kehilangan teman. —Mereka Bilang Aku Gila (KennySteele)
Kamu perlu
memahami lagi hakikat pertemuan. Ketika bertemu, kamu juga harus siap
kehilangan. Pertemuan dan perpisahan itu sepaket.
·
Aku berharap orang-orang itu menyakitiku, dan
aku ingin mereka melakukannya sekejam mungkin. Aku sudah bosan merasakan begitu
banyak luka batin. —Mereka Bilang Aku Gila (KennySteele)
Hahaha. Aku
ingat kutipan ini. Benar-benar mengingatnya karena ketika kutipan ini ku
jadikan status, pelatih silatku mengomentari dan menyatakan kesanggupannya
untuk memenuhi harapanku; menyakitiku sekejam mungkin. Aku mengecil seketika.
Ciut :’’’D
·
Tak ada orang yang dapat ku ajak bicara. Tak
ada seorang pun yang mau membantuku mengatasi siksaan batinku. —Mereka Bilang
Aku Gila (KennySteele)
Ada. Allah.
Dia selalu standby. Kamu yang enggan mendatangi-Nya.
· Ada kesenangan sendiri menjadi gila. Yang
tidak dapat dirasakan orang lain kecuali orang gila. —Mereka Bilang Aku Gila
(KennySteele)
Wah, ternyata
dulu kamu mengutip ini, Num? Kamu pernah gila? :/
·
Aku menjatuhkan beberapa cangkir kopi, dan
ketika aku mengangkat pecahan-pecahan itu, aku merasa seakan akan menggenggam
kehidupanku yang berantakan di tanganku. —Mereka Bilang Aku Gila (KennySteele)
Kamu masih
bisa menyatukannya kembali. Aku tahu bentuknya takkan lagi sempurna. Tetapi
akan lebih baik daripada dibiarkan berserakan dan melukai oranglain. Gunakan
lem alteco, it works!
·
Di dunia nyata ada dua jenis perasaan, yaitu
perasaan yang ada dihatimu yang harus kamu hadapi dengan jujur dan kamu atasi.
Dan perasaan yang ada di kepalamu, yang harus kamu rasionalkan dan kamu
benarkan meskipun tidak memuaskan. —Mereka Bilang Aku Gila (KennySteele)
Setuju.
· Sekarang tidak ada lagi tempat untuk cinta.
Cinta hanya akan membuatku lemah!
Yakin?
· Dingin sekali malam ini,, tetapi lebih dingin
dalam hatiku sejak cintamu tlah berlalu
Masih dingin?
Sebentar lagi kemarau.
·
Sesuatu yang menyakitkan ketika kamu tidak
bisa mencintai orang lain, hanya karena hatimu masih dimiliki oleh dia yang
melukaimu.
Kebodohan
lainnya yang ku lakukan. Tidak segera move on dari dia yang telah melukai.
·
Aku tepat disini untukmu. Aku akan terus
menunggumu sampai jantungku berhenti berdetak. Bahkan mungkin sesudahnya.
—Twilight
Masih
menunggunya? Nggak, tuh.
·
Kau berikan aku segalanya hanya dengan
bernafas. —Twilight
Bohong kok
nggak kira-kira. Nampak sekali bohongnya. Gombal yang nggak bermutu.
·
Itu masa lalumu. Seharusnya kamu tidak
membawa aku kesana. Kalau kamu belum bisa melupakan dia, berarti kamu belum
bisa mencintai orang lain selain dia.
Mungkin dia
ingin mengambil pelajaran dari masa lalunya, bukan berarti dia tidak
mencintaimu. Husnuzhon saja.
·
Makasih kamu udah ngasih aku cinta walau cuma
sesaat
-_- no comment
aja ya.
·
Aku memang mencintaimu, tapi bukan hak ku
untuk memiliki
Pandai!
·
Tanpa kamu aku merasa seperti debu di padang
pasir yang sering dipermainkan angin. Terbang, tapi tanpa arah...Ayah,Mama
:’)