Tampilkan postingan dengan label Lesson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lesson. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Maret 2020

Berdamailah dengan Dirimu

Aku paham betapa masa lalu faktanya begitu kelam. Aku paham betapa luka menekanmu dalam. Aku paham, bagaimana sakitnya menahan semua yang terjadi dengan perasaan yang remuk redam, dengan hati yang penuh lebam.

Aku tahu betapa kamu lelah. Aku tahu, di balik setiap langkah, ada sesal dalam hati yang terus membuatmu merasa semakin payah. Tapi, janganlah dulu patah, jangan menyerah. Jangan biarkan kakimu menghentikan langkah.

Ada aku,
Ada banyak sekali orang yang peduli denganmu,
Menyayangimu, mengharapkan yang terbaik untukmu, melangitkan do'a-do'a berjudul namamu.

Bagaimanapun masa lalu sedemikian rupa menyiksamu, meruntuhkan mimpi-mimpimu, tapi kau selalu bisa tidur kembali, beristirahat dari mimpi dan kejadian buruk malam tadi dan memulai mimpi yang baru lagi.

Bagaimanapun luka sedemikian rupa meneteskan darahmu, tapi kau masih bisa membalut dan mengobatinya kembali, merawatnya dengan sabar, tegar, dan teguh hingga akhirnya ia sembuh.

Bagaimanapun semua penyesalan mendorongmu untuk berhenti dan terus menerus merutuki diri, kau selalu punya pilihan untuk bangkit kembali, memohon maaf atas kesalahanmu dan memaafkan dirimu sendiri.

Kamu sudah bukan kamu yang dulu,
Kami juga bukan kami yang dulu,
Kita berbeda, kita telah melalui semuanya, kita bisa belajar darinya.
Kita bisa memeluk semua sakit itu, menerimanya sebagai bagian dari proses pembelajaran, mengusahakan yang terbaik untuk perbaikan ke depan.

Jika Tuhan Sang Maha Segalanya begitu dermawan untuk memaafkan, siapa kita untuk terus-menerus mengingat kesalahan hingga lupa bagaimana caranya berjalan, bagaimana agar tidak stagnan dan tak ada perkembangan.

Maafkan,
Beramailah dengan dirimu..
Share:

Selasa, 02 Januari 2018

Berdamai dengan Masa Lalu


"Mereka yang tidak dapat mengingat masa lampau ditakdirkan untuk mengulanginya" –George Santayana
Kutipan ini tidak sepenuhnya benar, namun kutipan ini berisi pesan, bahwa masa lalu menyimpan begitu banyak pelajaran yang jika kita abaikan, maka kita berpotensi untuk mengulang kesalahan yang sama.

Masa lalu. Dua kata yang ketika disebutkan beriringan akan memunculkan kembali berbagai hal dalam memori, baik itu kenangan atau tragedi. Kalau kamu adalah seorang dewasa yang telah matang jiwanya, yang telah kenyang dengan gelora muda sesuai masanya, maka dugaan kuat yang akan mencuat adalah kenangan tentang berbagai peristiwa, perjuangan, dan lain sebagainya. Kemudian, jika kamu adalah remaja yang sedang mencari (arti) cinta, maka dugaan kuat yang akan mencuat dan mendominasi dalam ingatanmu adalah cerita-cerita tentang rasa. Beuh. Rasa, katanya—meskipun kadang hal ini juga sepertinya terjadi pada orang dewasa. Tetapi, bukan itu yang saya maksudkan. Kamu mengerti, kan? :D

Selalu ada sisi gelap dari apa yang sudah tertinggal di belakang, memang. Meskipun ada golongan orang yang suka kegelapan, tapi #yakinlasumpeh kegelapan yang sedang saya bicarakan di sini bukan termasuk kesukaan mereka. Karena gelap disini bermakna duka, luka dan sebagian besar orang—untuk tidak dikatakan semuanya—tidak suka dengan luka dan duka. Jika ada yang tidak termasuk di antara mereka (yang tidak menyukai luka dan duka) mungkin hanya orang-orang yang bermasalah jiwanya, atau mungkin orang itu  ada keturunan bangsa (saya lupa nama Bangsanya, haha) dan turut melestarikan adatnya, dengan perayaan kegembiraan saat normalnya orang berduka dan dirundung kesedihan saat normalnya orang berbahagia.

Sisi gelap dari masa lalu, tentang luka dan duka, memang sedikit tidak enak untuk diingat. Tetapi, bukan berarti kita wajib melupakan semuanya sampai habis tanpa sisa. Bahkan, kebanyakan dari mereka justru harus sering-sering kita ingat. Toh, bagaimanapun cara kita untuk menghapus mereka semua, lazimnya sih nggak bakalan bisa. Kecuali Dia berkehendak. Misalnya, kita tiba-tiba amnesia atau kehilangan kendali atas jiwa. Yup, gila.

Kebanyakan dari mereka justru harus sering diingat-ingat, kenapa? Karena selalu ada yang dapat dijadikan pelajaran dari setiap kejadian. Entah itu menyenangkan atau menggalaukan. Sesuai dengan kutipan yang kalian pasti udah sering baca, terutama kalau waktu sekolah dulu kalian pakai buku tulis merk SiDu, “Experiences is the best teacher”. Pengalaman adalah guru terbaik. Nggak ada batasan tentang jenis. Semua jenis pengalaman termasuk di dalamnya. Dan yang namanya pengalaman adanya ya di masa lalu, kan? Karenanya, ada bagian dari masa lalu yang perlu, bahkan harus sering diingat.

Meskipun begitu, kita tidak katakan bahwa mereka semua patut diingat demi meraih pelajaran darinya. Ada bagian dari masa lalu yang lebih baik kita kubur dalam-dalam sebab di antara mereka ada yang lebih berpotensi membahayakan daripada memberi pelajaran. Yes, move on. Terhadap luka di masa lalu, terutama yang masih meninggalkan bekasnya, sebenarnya jika kita bersedia menyikapi dan memandangnya dari sisi berbeda, niscaya kita akan bisa tersenyum tatkala teringat tentangnya. Atau, minimal kita akan lebih bisa berlapang dada menerimanya sebagai bagian dari diri kita.

Masa adalah hal yang kita terikat padanya, dan waktu lampau adalah sesuatu yang telah berlalu namun begitu dekat dan senantiasa melekat dalam diri kita. Agaknya, sangat banyak hal yang tidak kita inginkan terjadi dan telah berlalu. Rasanya, ingin sekali membuang semua kenangan pahit dan melupakannya selamanya. Sayang, melepaskannya dari diri kita adalah sebuah kemustahilan. Tetapi, seburuk apapun kita di masa lalu, seperih apapun luka yang pernah tertoreh saat itu, hari ini menyuguhkan pilihan, akankah kita terus larut di dalamnya atau meraup sebanyak-banyak pelajaran darinya. Sebab cara untuk meperbaiki masa lalu ialah memperbaiki masa depan bermodalkan pelajaran dari pengalaman masa lalu dan analisis masa kini. Masa lalu boleh menyisakan luka, tetapi masa depan selalu menyimpan harapan bagi mereka yang berkenan mengambil pelajaran. Waw.

Sudah siap berdamai dengan masa lalu?
Share:

Rabu, 15 November 2017

Berteman dengan Orang Baik



Banjarmasin, 15 November 2017
Pukul 21.58 WITA

pict by inspira.co -- edited by Hanum Nasution

Berteman dengan orang baik selalu menjadi harapan bagi setiap orang, setidaknya begitu menurutku. Meskipun memang, terkadang seseorang 'terpaksa' berteman dengan 'orang-orang yang bermasalah' karena minder atau merasa tidak pantas berteman dengan 'orang baik'. Atau demi memperturutkan keinginan sesaatnya, sebagai sarana pemuas nafsu, ia harus berteman dengan orang yang ‘sesuai kebutuhannya’. Aku pernah menemukan beberapa yang seperti itu. Tetapi aku percaya, bahwa jauh di dalam hatinya dia ingin baik, dan berteman dengan orang baik. Karena pada dasarnya setiap orang terlahir baik, dan mencintai kebaikan.
Share:

Minggu, 15 Oktober 2017

Pentingnya Wawasan - Edisi Shalat Berjama'ah

Pentingnya Wawasan - Edisi Shalat Berjama'ah

Setelah menyaksikan suatu hal yang kayanya sepele tapi bisa jadi fatal kedepannya, saya jadi kepikiran mengangkat tema "Pentingnya Wawasan" Bahaya kan ya, nyepelekan sesuatu yang sebenernya dampaknya guede.

Jadi, begini ceritanya. Pada suatu siang saya ada kuliah. Jadwalnya sih dari jam 11.10 - 12.55 WITA. Pas udah masuk waktu zuhur, dan terdengar kumandang adzan, saya mau izin keluar untuk shalat sebentar. Pas mau ngangkat tangan buat izin keluar, eeehh ternyata materi udah mau selesai. Walhasil saya nunggu aja. Gak nyampe 5 menit kemudian, kelas berakhir. Saya langsung capcus ke masjid kampus. Waktu zuhur ges, masjid kampus penuh sesak kalo pas zuhur, khususnya di shaf/tempat cewenya.

Ketika saya masuk masjid, saya mau jalan ngambil mukena aja susah ges. Ya itu tadi, sesak! Penuh begete. Sampai-sampai yang biasanya dijadiin jalan, penuh sama orang yang lagi shalat. Alhamdulillah ya, jama'ah nya banyak.

Tapi gini, pas saya berhasil ngambil mukena dan mulai mencari celah buat "menyusup" nyari shaf, karena emang ada beberapa shaf yg gak rapat, saya menemukan shaf kosong depan tiang gede, menysuplah saya kesitu. Lah, pas udah berhasil menyusup, di samping shaf yg saya temukan ternyata ada orang, lagi duduk dengan santainya, lagi benerin kerudungnya, ngelipet mukena dengan lamban, trus duduk diem disana dengan ademnya. Sedangkan di belakang, orang-orang cuma bisa berdiri meluk mukena nggak kebagian shaf. Rupanya dia yang di samping saya ini udah selesai shalat, munfarid (sendirian, gak berjamaah).

Lagi, mereka yang berdiri di belakang yang belum kebagian shaf itu juga nggak gerak buat menyusup. Mungkin nih ya, dia pernah denger tentang larangan lewat di depan orang shalat, makanya dia diem disitu. Karena memang di belakangnya ada orang yg shalat juga.

Setuju sama apa yg dia lakuin?

Anda bilang, yes?

Kalo saya sih, no.

Kenapa?

Jadi begini: informasi bahwa ada larangan untuk lewat di depan orang shalat memang bener adanya.  Namun, ini berlaku untuk mereka yang shalatnya munfarid/sendirian. Jadi kalo ada orang shalat (munfarid, nggak berjamaah), haram bagi kita lewat di depan dia. Depan disini maksudnya antara tempat dia berdiri dan ujung tempat sujudnya, itu gak boleh dilewati, misalnya dia pake sajadah, nah, yg gak boleh dilewati itu yaa area sajadahnya itu, selebihnya yang di luar sajadahnya itu boleh dilewati*.

Kalo ada yang bersikeras mau lewat di antara tempat berdiri dan sujudnya, maka adalah hak bagi yang shalat untuk mencegahnya: dihalangin pake tangan misalnya, karena kalo sampai ada yang lewat depan kita shalat, sedangkan kita yang shalat membiarkan, sedangkan kita tau harusnya kita menghalangi dia buat lewat disitu, maka kitanya dosa. Bisa dipahami kan?

Si pe-lewat tadi juga, kalo dia tau bahwa lewat depan orang shalat itu haram, tapi dia tetap lewat juga, dosa juga.

Ituuuuuu, kalo shalatnya sendirian guys.

Nah, kalo shalatnya berjamaah beda lagi.
Dalam shalat berjamaah, larangan itu (lewat di depan orang yang lagi shalat) hanya berlaku bagi imam. Maksudnya, yang gak boleh dilewati itu hanya sutrah/batas sujudnya imam. Sedangkan depan-depannya makmum, gak apa-apa dilewati.
Makdarit: maka dari itu, kalau ada shaf yang masih kosong sedangkan shaf belakang orangnya penuh, nyusup aja kedepan, lewat aja di depan makmum lain yang shalatnya di shaf belakang tadi, gapapa.

Nah, jelas toh? Apa yg mestinya dilakukan sama si mba tadi?
Iya! Langsung berdiri dan kaluar aja dari shaf, biar yang lain yang pada ngantri di belakang bisa ngisi tempatnya tadi.

Gitu.

Wallaahu a'lam bish shawaab.
Share:

Jumat, 29 September 2017

Lesson.



Pekan ini saya dibebani dengan amanah untuk mengkoordinir suatu acara bagian Pubdekdok. Ini pengalaman pertama bagi saya bersentuhan langsung dengan aplikasi design. Yha, dari dulu—especially pas awa-awal masuk JRS Club Banjarmasin dimana saya cukup dekat dengan desainer grafis—saya emang pengen bisa ngedesign sendiri. Hanya saja tak kunjung saya mulai.
Share: